Minggu, 10 Februari 2013

puisi Syahrul Kiroom (I)



Senja seiring mega
Berarak melewati mantel bumi
Menyambut sang rembulan yang menjadi primadona bagi kesepian malam

Lama sudah ia menjadi perdebatan
Untuk menentukan kapankah datangnya kemuliaan itu

Keindahan t’lah terpancar darinya
Mengiringi kemuliaan yang dinanti
Kemuliaan yang sangat agung
Persembahan dari Yang Maha Agung
Dzat yang brada di tangan-Nya lah takdirku

Insan yang berkehendak untuk memuliakannya
Kan siap tuk menata hati dan niat
Bertasbih bersama sang rembulan
Di tiap masa-masa ia berkunjung

Tiap sudut tak seperti biasanya
Sunyi sepi tanpa lantunan ayat suci
Kini tak ada kesunyian kecuali dengan tujuan mendekat pada-Nya
Entah bersama terik sang surya atau kerlip bintang mengelilingi senyum rembulan

Tak seperti biasanya
Masa-masa terlewati dengan penuh impian atau rencana
Dengan diawali alunan
Niat hati untuk melakoni rukun islam

Tak seperti biasanya
Sujud dan rukuk menghadap sang khaliq ditambah
Agar jarak dengan Ar Rahman berkurang

Melodi mengalun dengan megahnya
Keragaman semakin memperindah siratan maknanya
Mukjizat khotimul anbiya’ melantun dengan mulianya
Sepi tak sebanding dengan kegelapan waktu
Kalam Illahi berjaya di urat-urat lisan insan
Tersisih sudah kefanaan dunia
Kalbu terbalut senyap mendekat Rabb

Potongan gumpalan bubuk gandum
Menemani dalam dingin yang berkunjung
Tak gentar hati tuk bertahan

Hingga rembulan t’lah letih
Menutuplah sumber kalam dan bertebarlah
Diantara ibadah-ibadah umat berselimut

Malam tak letih bersolek
Rembulan dan bintang silih berganti
Menghiasi paras eloknya
Hingga…

To be continued…. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar