Senja
seiring mega
Berarak
melewati mantel bumi
Menyambut
sang rembulan yang menjadi primadona bagi kesepian malam
Lama sudah ia menjadi perdebatan
Untuk menentukan kapankah datangnya
kemuliaan itu
Keindahan
t’lah terpancar darinya
Mengiringi
kemuliaan yang dinanti
Kemuliaan
yang sangat agung
Persembahan
dari Yang Maha Agung
Dzat
yang brada di tangan-Nya lah takdirku
Insan yang berkehendak untuk memuliakannya
Kan siap tuk menata hati dan niat
Bertasbih bersama sang rembulan
Di tiap masa-masa ia berkunjung
Tiap
sudut tak seperti biasanya
Sunyi
sepi tanpa lantunan ayat suci
Kini
tak ada kesunyian kecuali dengan tujuan mendekat pada-Nya
Entah
bersama terik sang surya atau kerlip bintang mengelilingi senyum rembulan
Tak seperti biasanya
Masa-masa terlewati dengan penuh impian
atau rencana
Dengan diawali alunan
Niat hati untuk melakoni rukun islam
Tak
seperti biasanya
Sujud
dan rukuk menghadap sang khaliq ditambah
Agar
jarak dengan Ar Rahman berkurang
Melodi mengalun dengan megahnya
Keragaman semakin memperindah siratan maknanya
Mukjizat khotimul anbiya’ melantun dengan
mulianya
Sepi
tak sebanding dengan kegelapan waktu
Kalam
Illahi berjaya di urat-urat lisan insan
Tersisih
sudah kefanaan dunia
Kalbu
terbalut senyap mendekat Rabb
Potongan gumpalan bubuk gandum
Menemani dalam dingin yang berkunjung
Tak gentar hati tuk bertahan
Hingga
rembulan t’lah letih
Menutuplah
sumber kalam dan bertebarlah
Diantara
ibadah-ibadah umat berselimut
Malam tak letih bersolek
Rembulan dan bintang silih berganti
Menghiasi paras eloknya
Hingga…
To
be continued…. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar